News

Loading...

Senin, 02 Juli 2012

Dinamika Industri Tembakau Indonesia Dalam Pasar Global


BAB I
PENDAHULUAN
 Tembakau merupakan salah satu komoditas perdagangan penting negara di dunia termasuk Indonesia. Produk tembakau utama yang diperdagangkan adalah rokok (manufacture tobacco) dan daun tembakau (un manufacture tobacco). Tingginya nilai tembakau membuat beberapa negara termasuk Indonesia dapat berperan dalam perekonomian nasional, yaitu sebagai salah satu sumber devisa, sumber penerimaan pemerintah melalui pajak/cukai, sumber pendapatan petani dan lapangan kerja masyarakat.
   Perkembangan bisnis tembakau yang pesat beberapa dekade terakhir tak ayal mengundang kontroversi. Seiring dengan kesadaran dan kepedulian masyarakat akan kesehatan dan lingkungan menyebabkan kehadiran tembakau dan rokok ditentang banyak kalangan. Penentangan ini didasarkan atas banyaknya bukti medis yang menunjukkan bahwa rokok dapat menimbulkan berbagai penyakit mematikan. Bahkan di negara-negara maju, persoalan tersebut telah ditanggapi dengan membuat kebijakan pembatasan tembakau yang mengakibatkan pergeseran produksi tembakau ke negara-negara berkembang. Produksi tembakau yang mulai awal 2000-an menurun lebih cepat dari pada tingkat konsumsinya menimbulkan kesenjangan antara penawaran dan permintaan daun tembakau. Namun disisi lain, penawaran dan permintaan pasar tembakau tumbuh sejalan dengan pertumbuhan penduduk sehingga menyebabkan harga daun tembakau di dunia meningkat. Potensi pasar ini merupakan peluang bagi negara berkembang seperti Indonesia dalam jangka pendek maupun jangka menengah. Selain berperan sebagai salah satu produsen dan eksportir produk tembakau di pasar dunia, Indonesia juga merupakan konsumen utama dunia karena menjadi negara kelima dengan jumlah perokok terbanyak di bumi ini. Pergeseran target pasar multi-nasional ini pastinya jadi ancaman bagi Indonesia, namun bila peluang pasar dapat dimanfaatkan, maka hal tersebut akan menjadi prospek pasar bagi tembakau Indonesia. Penurunan produksi tembakau di negara maju akan menurunkan daya saingnya di pasar dunia.
Kini seiring dengan pertumbuhan penduduk dan budaya merokok yang semakin luas, Indonesia menjadi pasar rokok yang potensial di dunia. Hal ini menyebabkan perusahaan rokok besar dan multi-national corporations (MNCs) memanfaatkan peluang pasar yang menjanjikan di Indonesia. Keberadaan perusahaan besar dan MNCs ini selain meningkatkan investasi juga mendatangkan kerugian bagi masyarakat dan pemerintah Indonesia dengan dampak negatif yang ditimbukan serta biaya sosial yang tinggi. Dengan demikian, Indonesia sudah sewajarnya harus memprioritaskan produk industri tembakau untuk pasar ekspor. Potensi ekspor Indonesia dapat ditingkatkan melalui, (a) memperkuat produk yang telah mempunyai pasar yang baik, (b) memprioritaskan tembakau bahan baku cerutu (Na Oogst) yang lebih berdaya saing, dan (c) mengalihkan produksi rokok dari rokok kretek ke rokok putih yang lebih berorientasi ekspor. Tulisan ini akan menampilkan dinamika industri tembakau Indonesia di pasar dunia.
BAB II
ISI
 Profil Komoditi Tembakau

Tembakau merupakan bahan penyegar yang mengandung alkaloid, yaitu suatu senyawa siklik kompleks yang mengandung nitrogen. Alkaloid ini dapat memberikan daya rangsang. Di Indonesia, tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian yang memegang peranan penting bagi perekonomian negara, yaitu sebagai penghasil devisa dan cukai. Banyak daerah di Indonesia yang memproduksi tembakau, seperti Bojonegoro, Jember, Lumajang, Kudus, Temanggung dan Deli. Industri tembakau merupakan tempat penghasil dan pengolahan tembakau dan sentra-sentra industri rokok, yang dapat menyediakan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja. Tembakau produksi Indonesia juga merupakan salah satu tembakau terbaik yang diperdagangkan dalam pasar global diantaranya di pasar tembakau Bremen. Pasar global sendiri ialah pemasaran yang berskala dunia. Ekspor tembakau Indonesia saat ini mencapai negara Eropa, Jepang dan Amerika.

                                                            Tembakau Omprong
                                                                                                                        Rokok Putih
            TEMBAKAU                         Tembakau Rajangan
                                                                                                                        Rokok Kretek
                                                            Ekstrak Tembakau

 Analisis
Produksi, Produktivitas, dan Luas Areal Tembakau Dunia
                        Produksi daun tembakau dunia periode tahun 1967-2007 mengalami peningkatan 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton (peningkatan rata-rata 1,21% per tahun). Dalam periode yang sama, luas lahan penanaman tembakau dunia juga meningkat dari 3,39 juta ha menjadi 3,93 juta ha (meningkat 0,30% per tahun). Sementara itu produktivitas usaha tani juga mengalami peningkatan dengan laju 0,91% per tahun, yaitu sebesar 1,26ton/ha pada tahun 1967 menjadi 1,61 ton/ha tahun 2007. Tingkat produksi tembakau terbesar dunia terjadi pada tahun 1997 yang mencapai 8,99 juta ton. Akan tetapi semenjak tahun 1997, produksi tembakau dunia mengalami penurunan sebesar 1,96% per tahun hingga tahun 2007.
                        Negara-negara penghasil tembakau dunia juga mengalami pergeseran. Jika tahun 1970-an Amerika Serikat tampil sebagai produsen terbesar tembakau di dunia, maka pada periode berikutnya tergeser oleh China dan beberapa negara lainnya seperti Brazil dan India. Indonesia sendiri yang pada tahun 1970-an belum menjadi produsen utama tembakau dunia, pada tahun tahun 1990-an langsung masuk dalam 8 besar dan pada tahun 2007 menjadi urutan ke 5 produsen tembakau terbesar dunia.
                        Dari data di atas dapat kita simpulkan bahwa perkembangan produksi daun tembakau di negara-negara berkembang seperti Brazil, India, dan Indonesia mengalami peningkatan, sedangkan di negara maju mengalami penurunan. Hal ini tentu saja tidak bisa dipungkiri, karena tekanan dari masyarakat di negara maju yang semakin anti tembakau. Masyarakat di negara maju semakin sadar akan bahaya merokok, dan gerakan anti rokok tersebut terus meningkat sehingga juga mempengaruhi penurunan luas areal tembakau. Lahan ini dialih fungsikan menjadi lahan pertanian lain yang dianggap berpotensi dan tidak berbahaya bagi kesehatan, misalnya gandum dan anggur. Penurunan produksi tembakau di negara maju telah dimanfaatkan beberapa negara berkembang dalam meningkatkan pangsa ekspornya seperti Brazil dan India, sehingga dalam ekspor daun tembakau juga mengalami pergeseran peran.
 Tabel 1. Sepuluh Negara Produsen Utama Tembakau Dunia Tahun 1970,1990, dan 2007.
Tahun 1970
Tahun 1990
Tahun 2007
Negara
Produksi (dlm %)
Negara
Produksi (dlm %)
Negara
Produksi (dlm %)
Amerika Serikat
China
India
Rusia
Brazil
Jepang
Turki
Bulgaria
Pakistan
Kanada
18,54
17,28
  7,23
  5,70
  5,23
  3,24
  3,21
  2,61
  2,48
  2,16
China
Amerika Serikat
India
Brazil
Turki
Rusia
Italia
Indonesia
Yunani
Zimbabwe
37,50
10,46
  7,82
  6,31
  4,20
  4,01
  3,05
  2,22
  1,92
  1,85
China
Brazil
India
Amerika Serikat
Indonesia
Pakistan
Italia
Turki
Zimbabwe
Yunani
38,87
14,73
  8,43
  5,73
  2,67
  2,00
  1,91
  1,67
  1,62
  1,28
Total Produksi Daun Tembakau Dunia (ribu ton)
4663,17

7137,44

6326,25
Sumber :FAO (2009)
 


Produksi, Produktivitas, dan Luas Area Tembakau Indonesia
Tabel 2. Produksi, Produktivitas, dan Luas Area Tembakau Indonesia
Tahun
Produksi
(ton)
Luas Area
(ha)
Produktivitas
(kg/ha)
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
140.169
151.025
209.626
105.580
135.384
204.329
199.103
192.082
200.875
165.108
153.470
146.265
164.851
216.148
222.164
219.262
221.500
168.500
168.300
262.000
257.100
256.926
200.973
198.212
215.012
215.000
649
680
624
621
809
804
814
827
776
826
776
867
867
Sumber:  
1.      Statistik Perkebunan Indonesia (Tree Crop Estate Statistic of Indonesia 2007-2009: Tembakau/Tobacco. 2008

Industri Hasil Tembakau di Indonesia
                        Sampai tahun 2009 Industri Hasil Tembakau masih berperan dalam roda pergerakan ekonomi nasional terutama di daerah penghasil tembakau dan sentra-sentra industri rokok, yaitu dengan menumbuhkan industri/jasa terkait, penyediaan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja.
                        Pada tahun 2005, jumlah Industri Hasil Tembakau (rokok) di Indonesia sebanyak 3217 perusahaan dan pada tahun 2006 mengalami peningkatan menjadi 3961 perusahaan, sehingga meningkat 23,12 %. Dalam periode 2005-2006 ini, produksi rokok sebesar dari 220,3 milyar batang dan 218,7 milyar batang. Penyebaran Industri Hasil Tembakau di Indonesia sebagian besar berada di Jawa Timur sekitar 75%, Jawa Tengah 20%, dan sebagian lainnya di Sumatera Utara, Jawa Barat, dan DIY. Produk hasil olahan tembakau terdiri dari rokok (rokok kretek dan rokok putih), cerutu, dan tembakau iris. Khusus untuk industri rokok, berikut adalah data dari pabrik baik besar (Gol I), menengah (Gol II), dan kecil (Gol IIIA dan IIIB) tahun 2007.
Tabel 3. Data Industri Rokok Skala Besar (Gol I), Menengah (Gol II) dan Kecil (Gol IIIA dan IIIB).
Pabrik
Jumlah Pabrik
Produksi
Cukai
Gol.
Jumlah Produksi (batang)
(juta batang)
%
(milyar Rp.)
%
Gol I
> 2 milyar
8
173,365.50
75,05
37,614.15
86,38
Gol II
> 500 juta – 2 milyar
15
  23,585.01
10,21
  2,978.81
  6,84
Gol IIIA
> 6 juta – 500 juta
354
  27,073.20
11,72
  2,870.51
  6,59
Gol IIIB
0 – 6 juta
4416
    6,976.20
3,02
       78.13
  0,18
Total
4793
231,000.00

43,541.50

Keterangan :
1.    Data produksi tidak termasuk cerutu, KLM/KLB, TIS.
2.    Sumber Dirjen Bea dan Cukai, Departemen Keuangan.
Dengan tidak mengesampingkan dampak faktor kesehatan, prioritas yang diberikan kepada Industri Hasil Tembakau untuk tetap berkembang masih didasari oleh aspek ekonomi, di mana industri ini mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar (± 10 juta orang) dan sumbangannya terhadap penerimaan negara (cukai). Pada tahun 2006 cukai rokok sebesar 42,03 trilyun dan 2007 mencapai 43,54 trilyun.
Namun saat ini, Industri Hasil Tembakau dihadapkan dengan banyak permasalahan yang muncul, yaitu dampak buruk merokok bagi kesehatan baik di tingkat global maupun nasional.  Badan tertinggi dunia PBB melalui WHO telah mendirikan konvensi FTCT (Framework Convention on Tobacco Control) yang bertujuan untuk mengendalikan produk tembakau. Tapi hingga saat ini pemerintah belum juga meneken kesepakatan tersebut. Sedangkan di tingkat nasional tertuang dalam PP No.19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Selain itu, kebijakan cukai yang tidak terencana dengan baik, tidak transparan, dan semakin maraknya produksi dan peredaran rokok ilegal juga menjadi masalah bagi Industri Hasil Tembakau. Untuk itu Industri Hasil Tembakau meningkatkan hubungan dan kerja sama dengan stakeholder guna meningkatkan daya saing diantara pelaku usaha. Dengan demikian industri ini diharapkan tetap mampu menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan penerimaan negara melalui cukai dan pajak, dan menumbuhkan industri terkait dengan tidak mengesampingkan faktor penting kesehatan.
Kecenderungan Global Industri Hasil Tembakau
                        Kecenderungan yang telah terjadi antara lain adalah, dulu sebelum tahun 1990-an permintaan rokok dunia meningkat konstan dan sepuluh tahun kemudian berhenti. Di negara maju, seperti AS dan Eropa terjadi penurunan penjualan rokok karena kesadaran akan pentingnya kesehatan dan gencarnya kampanye anti rokok mulai dilakukan. Selanjutnya WHO menetapkan FTCT (Framework Convention on Tobacco Control) pada tanggal 28 Mei 2003 di Genewa, Swiss dan mulai diberlakukan 27 Februari 2005.
                        Selain kecenderungan yang telah terjadi di atas, kecenderungan yang akan terjadi juga patut kita bahas di sini. Pertama adalah penerapan pajak yang tinggi terhadap produk tembakau sebagaimana tercantum dalam FTCT, akan mengurangi produksi dan konsumsi tembakau dan menimbulkan semakin banyaknya rokok-rokok ilegal. Yang kedua, dengan semakin maraknya gerakan anti rokok, maka akan menghentikan industri rokok itu sendiri. Jika di Amerika dan Eropa Barat penjualan rokok menurun, tidak demikian yang terjadi di Eropa Timur dan Asia. Di kawasan ini volume penjualan rokok cenderung naik. Hal ini disebabkan karena pangsa pasar di negara berkembang masih tinggi di mana pupulasinya masih banyak yang aktif merokok.
Ekspor dan Impor Olahan Tembakau Indonesia
Perdagangan luar negeri memberikan manfaat bagi suatu negara melalui aktivitas ekspor dan impornya. Perdagangan luar negeri ini juga akan membawa dampak terhadap kegiatan ekonomi suatu negara, tak terkecuali Indonesia. Aktivitas ekspor dan impor Indonesia diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Berikut ini adalah data Ekspor dan Impor Tembakau Indonesia tahun 1990-2007.
Tabel 4. Proporsi Ekspor Dan Impor Daun Tembakau Terhadap Total Produksi Indonesia tahun 1990-2007
Tahun
Impor
(ton)
Ekspor
(ton)
Produksi
(ton)
Konsumsi
(ton)
% Impor
thd konsumsi
% Impor
thd produksi
% Ekspor
thd produksi
% Impor
thd ekspor
1990
26,546
17,401
156,432
147,287
18,0
17,0
11,1
152,6
1991
28,542
22,403
140,283
134,144
21,3
20,4
16,0
127,4
1992
25,108
32,365
111,655
118,912
21,1
22,5
29,0
77,6
1993
30,226
37,259
121,370
128,403
23,5
24,9
30,7
81,1
1994
40,321
30,926
130,134
120,739
33,4
31,0
23,8
130,4
1995
47,953
21,989
140,169
114,205
42,0
34,2
15,7
218,1
1996
45,060
33,240
151,025
139,205
32,4
29,8
22,0
135,6
1997
47,108
42,281
209,626
204,799
23,0
22,5
20,2
111,4
1998
23,219
49,960
105,580
132,321
17,5
22,0
47,3
46,5
1999
40,914
37,096
135,384
131,566
31,1
30,2
27,4
110,3
2000
34,248
35,957
204,329
206,038
16,6
16,8
17,6
95,3
2001
44,346
43,030
199,103
197,787
22,4
22,3
21,6
103,1
2002
33,289
42,686
192,082
201,479
16,5
17,3
22,2
78,0
2003
29,579
40,638
200,875
211,934
14,0
14,7
20,2
72,8
2004
35,171
46,463
165,108
176,400
19,9
21,3
28,1
75,7
2005
48,142
53,729
153,470
159,057
30,3
31,4
35,0
89,6
2006
54,514
53,729
146,265
145,480
37,5
37,3
36,7
101,5
2007
69,742
46,834
164,851
141,943
49,1
42,3
28,4
148,9
Sumber: Statistik Perkebunan Indonesia (Tree Crop Estate Statistic of Indonesia) 2007-2009: Tembakau/Tobacco,  Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal  Perkebunan, 2008.
                        Dari data tersebut dapat kita simpulkan bahwa dalam periode tersebut, Indonesia masih banyak dalam mengimpor yaitu 10 tahun dan sisanya 8 tahun lebih banyak mengekspor. Indonesia mengekspor daun tembakau  berkisar antara 11%-37% dari total produksi, tapi juga mengimpor daun tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok  dalam negeri sebesar  17-42% dari total produksi.   
Sementara itu, data dari Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian tahun 2009 menyebutkan bahwa dalam  periode  tahun  2004-2008,  ekspor  cerutu  berkembang  rata-rata 18,94%  per  tahun.  Yaitu  dari  USD  11,30  Juta  pada  tahun 2004  menjadi  USD  22,00  juta  pada  tahun  2008.  Dalam periode  yang  sama  ekspor  rokok  berkembang  rata-rata  25,4%  dari  USD  157,61  juta  menjadi  USD  357,78  juta. Selain itu, jika melihat nilai ekspor tembakau dari tahun 2006 sampai 2009, terjadi peningkatan harga, meskipun pada tahun 2007 volume ekspor tembakau Indonesia yang mencapai 8.951 ton per tahun, mengalami penurunan dari  tahun sebelumnya sebesar 9.202 ton. Meski terjadi penurunan, namun nilai ekspornya tetap naik, dari US$35,876 juta di tahun 2006 menjadi US$36,696 juta di tahun 2007. Dan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini menyebutkan bahwa ekspor tembakau Indonesia mengalami kenaikan untuk periode Januari-November 2011 mencapai US$ 652,2 juta naik 4,59% dibandingkan tahun 2010 yang hanya US$ 623,5 juta. Sementara itu, selain mengekspor hasil olahan tembakau, Indonesia juga mengimpor tembakau dari luar yang nilainya juga tergolong besar. Seperti data impor cerutu pada periode 2004-2008 yang naik luar biasa yaitu sebesar 197,5% per tahun. Hal yang sama terjadi pada impor rokok, pada periode yang sama terjadi penaikan dari USD 0,863 juta menjadi 4,357 juta atau naik rata-rata 86,87% per tahun.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
                        Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan, produksi tembakau Indonesia beberapa dekade terakhir terutama di era reformasi mengalami fluktuasi. Namun demikian, hingga saat ini Indonesia masih menjadi negara produsen tembakau peringkat lima dunia. Hal ini dikarenakan produksi tembakau di negara maju mengalami penurunan dan pangsa pasar beralih ke negara berkembang. Keadaan ini dipicu dengan sikap kepedulian dan kesadaran masyarakat di negara maju akan kesehatan dan kelestarian lingkungan. Sementara itu, di negara berkembang terjadi pertumbuhan penduduk yang relatif cepat diikuti dengan budaya merokok yang masih tinggi pula. Di Indonesia sendiri yang disebut-sebut sebagai negara berkembang, tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian yang memegang peranan penting bagi perekonomian negara, yaitu sebagai penghasil devisa dan cukai serta penyedia lapangan kerja. Namun, pemerintah kini seakan mengalami dilema dengan adanya konvensi FTCT dari WHO tentang pengendalian produksi tembakau. Hal ini dibuktikan dengan Indonesia sampai saat ini belum menandatangani dan meratifikasi FTCT tersebut.
                        Sementara itu, dilihat dari ekspor dan impor produk tembakau, Indonesia masih cenderung lebih banyak mengimpor daripada mengekspor tembakau. Tingkat konsumsi yang tinggi di dalam negeri menjadi salah satu faktor pemicunya. Dengan demikian, pemerintah harusnya lebih mengkaji lagi bagaimana caranya agar impor ini dapat lebih kecil dari ekspor atau bahkan tidak perlu lagi ada acara mengimpor-imporan segala. Memaksimalkan produksi dalam negeri serta menyadarkan masyarakat akan kerugian mengkonsumsi rokok mungkin kiranya dapat meningkatkan ekspor tembakau di pasar global.



DAFTAR PUSTAKA

Todaro, Michael P. Smith, Stephen C.2006.Pembangunan Ekonomi Edisi Kesembilan.PT Gelora Aksara Pratama.Jakarta

Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia.Usulan WHO Hambat Ekspor Tembakau Indonesia. http://amti.or.id/2011/01/usulan-who-hambat-ekspor-tembakau-indonesia/.18-05-2012


Anonim.Pertanian Tembakau dan Cengkeh Indonesia. http://www.ino.searo.who.int/LinkFiles/Tobacco_Initiative_Bab_3-Pertanian_Tembakau.doc.doc.18-5-2012
Bank Sentral Republik Indonesia. Profil Komoditi Tembakau. http://www.bi.go.id/web/id/DIBI/Info_Eksportir/Profil_komoditi/ProfilKomoditi/tembakau.htm.18-05-2012


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar